“JANGAN pernah mempercayai kata,
sebelum kau mengenali maknanya. Dan jangan pernah menganggap kau bisa
memaknainya, sebelum kau mampu merasakannya,” kera tua itu berkata,
sambil mengerkah jambu biji merah.
Sekujur tubuhnya ditumbuhi beribu helai perak, sehingga
siapa pun di rimba itu akan dengan mudah menyebutnya sebagai kera
cahaya.
Sebagian hewan yang mendengar ucapannya terangguk-angguk
tak paham. Sebagian yang lain hanya tersenyum dan menganggapnya sebagai
bualan makhluk yang pikun dan kesepian.
“Ayo, masuk. Sudah berapa kali ibu bilang, jangan
dengarkan ucapan dia,” seekor ular menghardik anak-anaknya, sambil
menggiring mereka memasuki lubang.
“Kenapa? Dongeng kera itu bagus-bagus, Bu,” sela yang paling kecil agak merajuk.
“Kau tahu, dia lebih tua daripada usianya sendiri. Itu sebabnya pikirannya jadi kacau dan bicaranya meracau.”
“Tapi…,” si kecil hendak bersikeras, tapi si ular sudah terlanjur menggelandangnya masuk liang.
“Hmm. Aku ingat, sepertinya kau mengulangi kata-kata
seseorang?” terdengar suara si gajah yang sejak tadi berendam di sungai
dekat batang jambu biji itu tumbuh.
“Hahahaha. Kau memang layak dijadikan lambang ilmu
pengetahuan. Daya ingatanmu sangat besar. Benar, Kawan. Aku hanya
mengulangi sebuah ucapan yang ditulis entah oleh siapa.”
“Jadi kau bisa baca tulis?” celetuk seekor ulat bulu.
Si kera tak menjawabnya, asyik menikmati jambu biji yang
kelihatannya manis itu. Beberapa kera kecil menelan ludah, mencoba
membayangkan kesegaran itu menyegarkan kerongkongan mereka.
Burung-burung kecil mencoba mencari-cari kesempatan untuk mematuk satu
atau dua remah kecil yang tersangkut di bulu sekitar mulut si kera
cahaya.
“Begini,” sambungnya tiba-tiba setelah menelan gigitan
terakhir buah jambunya, “sebuah anak panah hanya akan menjadi anak panah
jika pertama-tama kau merasakannya sebagai anak panah. Namun jika kau
merasakannya sebagai mawar, misalnya, dia pun akan menjadi mawar
seutuhnya.”
Hutan senyap seketika. Angin seperti beku mendadak.
Aliran air di sungai seperti berhenti. Batu-batu seperti makin mengeras.
Langit seperti menganga. Burung-burung seperti hendak jatuh, karena
sesaat lupa mengepakkan sayap. Tapi itu hanya sesaat. Sesaat kemudian
yang terjadi adalah sebuah ledakan besar. Ledakan gelak tawa luar biasa.
Air berjingkrak kegelian. Gajah tersedak air yang tiba-tiba melonjak
memasuki lorong belalainya. Batu-batu menggelinding dan saling
membenturkan diri ke batu yang lain. Langit terlalu terang karena
matahari seperti melorot begitu saja ke bumi. Burung-burung mengepakkan
sayap kembali.
Kera tua itu menjadi bahan olokolok seluruh dunia.
Ucapannya yang sebetulnya lahir dari kesungguhannya, ternyata hanya
membuahkan gelak tawa penghinaan. Tetapi dia sudah tua dan paham benar
muara setiap persoalan. Karenanya, dia tenang-tenang belaka, pura-pura
mencari kutu, itu pun kalau masih ada kutu yang mau melekat di tubuhnya.
“Jadi,” kata si kuda betina, sambil menahan tawa, “kalau
si kambing jantan ingin menunggangiku, aku harus merasakannya sebagai
si banteng, dan jadilah dia banteng, begitu maksudmu?”
Gelak tawa kian menggila. Si kambing memelototi siapa saja, terutama si kuda betina yang kian liar menggoyangkan pantatnya.
“Kambing tetaplah kambing. Mana bisa jadi sebesar banteng?” Gelak tawa makin membahana.
Hutan rimba riuh gaduh. Hanya keheningan yang menelusupi
hati si kera cahaya. Dia memilih pergi, mencari danau kesenyapan.
Barangkali saja di sana tak ada sebisik pun suara yang tak berguna.
Diam-diam si gajah mengikutinya. Dan itu membuat si kera tersenyum.
.
DIA tahu, gajah adalah makhluk pendiam
dan pencatat peristiwa paling cermat. Daya ingatnya yang tak tertandingi
makhluk apapun di dunia ini, membuatnya memilih menjadi batu bergerak
yang seringkali diabaikan. Apapun yang tergores di benaknya, akan abadi
di sana.
“Apakah yang kau maksudkan tadi adalah kisah kematian seorang brahmana sakti itu?” bisiknya di sela langkahnya yang berat.
Kera cahaya melompat ke punggungnya, dan sambil tiduran dia pun membenarkan pertanyaan si gajah.
Konon, demikian si gajah mulai mengurai kisahnya,
brahmana ini memiliki 105 orang cucu. Padahal dia sendiri tak pernah
merasakan kelamin perempuan. Keturunan itu dia peroleh bukan melalui
persetubuhan, tetapi melalui daya cipta yang kuat. Kekuatan daya
ciptanya memancar dan bersemi di rahim tiga perempuan suci.
Tapi kisah yang baru sepotong itu sudah dipangkas oleh
bantahan si kera bahwa bukanlah brahmana itu yang memiliki cucu, tetapi
saudara sesusunya. Dengan demikian anak dan cucu saudara sesusunya itu
adalah juga keturunan si brahmana.
“Yang aku katakan tadi adalah apa yang kuketahui, bukan
apa yang sebaiknya kuketahui, Monyet,” ucapnya tenang. Si kera cahaya
hanya tertawa girang.
“Lanjutkan.”
“Begitulah, waktu berjalan sebagaimana seharusnya dan
nasib membentuk sendiri kisah-kisahnya. Keseratus lima orang cucunya
berselisih. Lima melawan seratus, memperebutkan sebentang kerajaan. Si
brahmana sedih. Dia merasa gagal menjadi manusia karena seharusnya
manusia adalah sumber ketenteraman di muka bumi, bukan sebaliknya.”
“Tapi bukankah dia memilih memihak pada yang seratus? Bukan pada yang lima?”
“Benar. Apa salahnya dengan itu?” sahut si gajah tenang.
“Artinya, percuma saja dia sedih oleh selisih dan tikai jika pada akhirnya dia menjalani juga apa yang tak diinginkannya?”
“Dan seingatku, bukankah kau ada di sana waktu itu,
Monyet?” Si kera cahaya hanya tertawa kecut, dia senang
memancing-mancing di mana saja.
Ingatan si kera cahaya melayang ke beberapa ratus bulan
silam. Semuanya seperti segulung deluwang panjang yang menggelar
kisah-kisah yang lama tersimpan di dunia para makhluk bumi. Kisah-kisah
itu berlompatan riang, seperti terbebas dari pengapnya kebodohan.
Bersusul-susulan cerita-cerita itu menerjang kenangan si kera cahaya.
Namun semuanya hanya seperti penari cantik yang hanya menggoda mata
dengan helai tipis penutup tubuhnya. Tak boleh ada yang menjamahnya dan
tak mungkin pula ia terjamah, hanya mata belaka yang boleh berzinah.
.
SATU kisah tiba-tiba diam bersimpuh di
mata batin si kera. Kisah paling cantik yang pernah dijumpainya. Hanya
sepenggal percakapan di senja hari, ketika para kalong keluar sarang dan
para kerbau pulang kandang. Si kera gemetar.
Itulah senja ketika si kera duduk di sebuah dipan tombak
dan anak panah di mana terbaring si brahmana sakti. Keduanya terdiam.
Si brahmana menatap langit berlapis tujuh yang mulai gelap menembaga,
sementara si kera cahaya memandangi bentangan padang mayat dengan
kepulan asap di sana sini.
“Jadi, kehancuran inikah yang kau maksud, wahai orang tua?” si kera bertanya setengah menggumam.
Brahmana tua yang tubuhnya tersangga oleh tombak-tombak
dan anak-anak panah itu tersenyum, lalu balik bertanya apa yang
dirasakan si kera. Dengan agak jengkel dia pun bertanya apa sesungguhnya
maksud si brahmana.
“Biarlah rasa menuntun makna dan makna menuntun kata,”
ucapnya semanis madu selembut embun saat subuh hari. “Jika kau merasakan
kehancuran, maka kata yang tepat untuk pemandangan ini bagimu adalah
kehancuran. Namun aku merasakannya sebagai pencapaian kepada pancamaya.”
Si kera tertegun. Sesaat nafasnya terhenti.
Menurut leluhur para kera, jin dan manusia, demikian
kata brahmana itu selanjutnya, pancamaya adalah rahasia ilmu abadi, yang
hanya bisa dikupas dengan memadamkan kelima daya inderawi. Dia tak bisa
disebut dekat atau jauh, karena kedua kata itu tak mampu menunjukkan
keberadaannya yang sejati. Jika mata inderawi yang digunakan untuk
melihatnya, maka terbutakanlah mata itu untuk mencapainya. Jika telinga
inderawi yang digunakan untuk mendengarnya, maka hanya dengung sepi yang
mengumandang.
“Pancamaya?” ulang si kera kala itu dan brahmana tersenyum mengiyakan.
“Lalu apakah lima cucumu itu yang kau maksudkan? Bagaimana dengan yang seratus?”
“Ah, kera buruk rupa dan keras kepala! Semua itu hanya
sebuah kata. Kau menyebutnya lima dan seratus karena matamu melihat dan
otakmu menghitung. Tinggalkan itu semua, karena hanya akan menipumu ke
dalam kemayaan.”
“Ah, bingung aku.”
“Dasar bodoh. Kalau kau tak mau merasa, maka selama dunia ini tergelar, kau akan tetap jadi kera.”
“Apa maksudmu? Aku saja ngeri melihat beribu anak panah
menembus tubuhmu, tombak mengoyak lambung dan dadamu, dan kau masih
hidup. Apa kau tak merasa sakit? Sederhana saja, bukan? Lantas untuk apa
semua kengerian ini sementara kau sekarat tak mati-mati?”
“Dengarkan baik-baik, monyet jelek. Demi melihat
kebenaran aku bersedia mematikan seratus rasaku. Demi menyibak
pancamaya, aku bersedia menghancurkan bukan hanya tubuhku. Apalah
artinya usiaku, yang bahkan tak pernah kumiliki? Apalah artinya setiap
nafasku, yang juga tak pernah kukuasai? Dan jika hidup ini saja rela
kuhancurkan demi munculnya pancamaya, maka apalah arti seribu anak panah
dan tombak yang hanya mengoyak tubuh rentaku? Dan rasakan dengan cermat
apakah benar yang mengoyak tubuhku ini anak-anak panah? Apakah tak kau
saksikan sebetulnya tubuhku ini adalah sebidang taman bermawar merah
yang membukit, beribu mawar yang membuncah dengan suburnya dan mengharum
ke angkasa raya?”
Seketika si kera jatuh dari punggung gajah. Si gajah
hanya tersenyum karena dia pun mengikuti ingatan si kera. Dengan
diam-diam tentu saja. Itu sebabnya gajah tak bertanya mengapa.
Sedikit merasakan sakit, si kera buru-buru memanjat punggung gajah kembali dan menikmati keheningan.
“Kira-kira, apakah dia sudah mencapai pancamaya?”
“Mungkin? Kita tak pernah tahu. Mungkin saja dia masih
minum-minum bersama Attar si pengharum itu, bertukar jawab tentang
sebuah nama yang tak satu pun lidah makhluk bahkan mampu melafalkannya
dengan benar.”
Kera cahaya, memerak putih bulu-bulunya, terdiam. Dia
merasa sudah saatnya dia menempuh jalan rasa, mematikan jalan kasat
mata, menghidupkan pancamaya. Bersama si gajah, kera cahaya itu berjalan
menapaki jalan rasa sehingga matahari menuntunnya sampai ke batas
antara langit dan bumi maya. (*)
Yanusa Nugroho, Jakarta (Koran Tempo, 12 Juni 2011)