Artikel Terbaru :
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sejarah Dan Khasiat Pengobatan Nabi Bag. I

Ada tiga jenis thibbun nabawi, yakni menggunakan obat alami, obat ilahiah, serta menggabungkan
kedua unsur tersebut.


Habatus sauda, minyak zaitun, madu, dan bekam menjadi alternatif pengobatan pada era modern kini. Bahkan, kedokteran modern mulai tertarik meneliti karena kandungannya yang mujarab sebagai obat.

Itu hanyalah beberapa dari sekian banyak thibbun nabawi atau pengobatan nabi yang pernah diajarkan Rasulullah. “Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan beserta penawarnya.” (HR Bukhari)

Istilah thibbun nabawi sebenarnya tak dikenal pada masa kerasulan. Penggunaan istilah tersebut baru familiar pada abad ke-13 oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Zaadul Ma'ad.

Dalam bahasa Arab, thibb berasal dari thabba-yathubbu-thabban yang bermakna kemahiran, memperbaiki, mengobati. Dari akar kata yang sama, //thabbib berarti pelaku yang mengobati atau dokter. Sehingga,thibb an-nabawi secara bahasa berarti pengobatan nabi.

Adapun Ibnul Qayyim memaknai secara istilah thibb bermakna ilmu untuk mengetahui kondisi tubuh manusia dari aspek kesehatan, baik untuk memelihara kesehatan maupun mengobatinya.

Metode pengobatannya tidak seperti pengobatan yang dilakukan dokter. Thibbun nabawi bersifat qath'i dan ilahi yang bersumber dari wahyu kenabian dan kesempurnaan akal. Adapun pengobatan lain secara umum hanya berlandaskan perkiraan, dugaan, dan percobaan.

Ibnul Qayyim mengatakan, kemujaraban thibbun nabawi akan dirasakan manfaatnya jika menerima dan meyakini Allah akan memberikan kesembuhan baginya. Sehingga, pengobatan thibbun nabawi hanya cocok bagi jiwa yang baik sebagaimana pengobatan dengan Alquran yang tak cocok kecuali bagi jiwa yang baik dan hati yang hidup.

“Hal-hal tersebut bukanlah disebabkan kekurangan pada obat, namun lebih disebabkan buruknya karakter, rusaknya tempat, dan tidak adanya penerimaan,” demikian penjelasan Ibnul Qayyim tentang thibbun nabawi.

Dalam sirah disebutkan, Rasulullah sering kali memberikan anjuran obat bagi sahabat yang sakit. Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah pun mengandung tuntutan hidup sehat yang patut menjadi uswah.

Beberapa jenis obat-obatan yang pernah dianjurkan Rasul diantaranya habatussauda atau jintan hitam, madu, minyak zaitun, kurma, air zamzam, bawang putih, ismid, dan kam'ah. Rasul juga mengajarkan pengobatan seberti bekam (hijamah), khitan, wudhu, dan gurah. Selain itu, ayat-ayat Alquran juga sering kali digunakan untuk pengobatan. Dikenal juga pengobatan dengan rukyah.

Oleh: Afriza Hanifa


Pemimpin Yang Amanah Bag. I

REPUBLIKA.CO.ID, Apakah kita membutuhkan pemimpin yang cerdas dan berpendidikan tinggi? Atau, pemimpin yang “biasa-biasa saja”, tapi mempunyai “keunikan” tersendiri yang berkait dengan akhlak, seperti mempunyai sikap amanah yang tinggi? Sepertinya, tidak bisa sekadar menjadi bak soal ujian yang tinggal pilih dengan mencontreng a, b, atau c.


Soal kriteria pemimpin belakangan mencuat kembali. Tampaknya ini didasari oleh kepedulian, kegelisahan, dan harapan terhadap kepemimpinan di negeri kita ke depan. Menarik, misalnya pernyataan mantan panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin bangsa yang amanah.


Ukuran kepemimpinan seolah bersifat dinamis, selaras kebutuhan. Sebelumnya, sudah ada penelitian bahwa pemimpin yang didambakan rakyat di tahun 2014 nanti adalah sosok yang amanah dan tegas. Mungkin kita gampang menebak, mengapa ada euforia terhadap kepemimpinan yang amanah.
Saat ini, negeri kita tengah belepotan dengan berbagai masalah kronis, utamanya penyimpangan moral dan kekuasaan. Korupsi masih terus merajalela. Inilah yang kemudian menjadikan rakyat tidak mendapatkan keteladanan yang baik dari para elite.


Begitu mudahnya terjadi tawuran, bentrokan, dan kerusuhan dalam berbagai bentuk di kalangan masyarakat. Seakan-akan bangsa kita sekarang ini hidup “bagai api dalam sekam”, mudah tersulut amarah. Fakta-fakta inilah yang oleh banyak amatan diakibatkan juga adanya krisis keteladanan dari para petinggi kita.


Tak sangkal, kebutuhan terhadap kepemimpinan yang mumpuni bersifat krusial. Ukurannya bisa kontekstual, tetapi bila dicermati, sebenarnya bersifat perenial. Maksudnya, kriteria pemimpin sesungguhnya merupakan sesuatu yang innate ideas, yaitu harapan fitrah dari eksistensi manusia.


Ya, sejak dini manusia sudah memiliki “kecondongan” yang sifatnya fitri terhadap sosok pemimpin yang hendak diwujudkan. Soal kemudian ada keinginan yang kondisional, hal ini dapat saja terkait dengan situasi sosiologis yang melingkupi masyarakat. Menyitir ungkapan Ibnu Khaldun, adanya organisasi masyarakat menjadi hal yang niscaya bagi kehidupan manusia.


Redaktur : Endah Hapsari
Sumber : Said Aqil Siroj
(sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/02/09/n0pliv-pemimpin-yang-amanah-1)

Sayangi Ibu 2

REPUBLIKA.CO.ID, Abu Hurairah sangat menyayangi ibunya, terlebih setelah ibunya masuk Islam. Dia selalu hormat dan berbakti kepada ibunya. Setiap akan pergi meninggalkan rumah dia berdiri lebih dahulu di depan pintu kamar ibunya mengucapkan salam, “Assalamu‘alaiki wa rahmatullah wa barakatuh, ya ummah!” Ibunya menjawab dengan lembut, “Waalaikassalam wa rahmatullahi wa barakatuh, ya bunayya.”


Illustrasi



Kemudian, Abu Hurairah mendoakan ibunya, “rahimakillahu kama rabbaytini shaghira”(semoga Allah mengasihi ibu sebagaimana ibu merawatku waktu kecil). Ibunya mem ba las doa putranya dengan doa yang tidak kalah indahnya, “wa rahimakallahu kama barartani kabira” (semoga Allah mengasihimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku setelah engkau dewasa).


Abu Hurairah aktif mengajak orang lain agar memuliakan dan berbuat baik dan menyayangi kedua orang tua. Suatu hari dia melihat dua orang berjalan bersama, yang satu lebih tua dari lainnya. Abu Hurairah bertanya kepada yang muda, siapa orang tua ini? “Ba pakku”, jawab anak muda itu.




Lalu Abu Hurairah menasihatinya. “Janganlah engkau memanggilnya dengan menyebut namanya. Jangan berjalan di hadapannya. Dan jangan duduk sebelum dia duduk lebih dahulu.” Begitulah, sisi lain Abu Hurairah, yang sangat sayang kepada ibunya dan hormat kepada yang lebih tua.

(sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/02/01/n0ayqq-sayangi-ibu-2)

Sayangi Ibu Bagian 1

REPUBLIKA.CO.ID, Waktu kecil Abdusy Syams (hamba Matahari) sangat sayang kepada seekor anak kucing betina, yang dalam bahasa Arab disebut Hurairah. Sejak itu dia dikenal dengan panggilan Abu Hurairah. Setelah masuk Islam, Rasulullah SAW lebih suka memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab, dan dia lebih suka panggilan itu. Abu Hirr artinya penyayang kucing jantan. Namun, Rasulullah SAW kemudian mengganti namanya menjadi Abdur Rahman (hamba Allah yang Maha Penyayang).


sayangi ibumu
illustrasi
Abu Hurairah RA berasal dari suku Daus dan dia masuk Islam melalui Thufail bin ‘Amir ad-Dausy, salah seorang pemimpin suku tersebut. Setelah masuk Islam, pemuda ad-Dausy ini pergi ke Madinah menemui Nabi dan berkhidmat untuk Rasulullah sepenuh hati. Dia tinggal bersama ahli shuffah di beranda Masjid Nabawi. Tiap waktu dia bisa shalat di belakang Nabi dan mendengarkan pelajaran berharga dari Nabi.


Abu Hurairah punya ibu yang sudah tua dan sangat disayanginya. Dia ingin ibunya memeluk Islam, tapi menolak bahkan mencela Rasulullah SAW. Abu Hurairah sangat sedih. Dia pergi menemui Rasulullah sambil menangis. “Mengapa engkau menangis wahai Abu Hirra?” sapa Nabi. Abu Hurairah menjelaskan apa yang menyebabkan hatinya galau, sambil meminta Rasul mendoakan ibunya. Lalu Nabi berdoa agar ibu Abu Hurairah terbuka hatinya untuk menerima Islam.


Suatu hari Abu Hurairah menemui ibunya. Sebelum membuka pintu dia mendengar suara gemericik air, kemudian terdengar suara ibunya. “Tunggu di tempatmu, Nak.”


Setelah dipersilakan masuk, Abu Hurairah kaget tatkala ibunya langsung menyambut dengan ucapan dua kalimat syahadat. Alangkah bahagianya Abu Hurairah, keinginannya tercapai. Segera dia kembali menemui Rasulullah. “Dulu aku menangis karena sedih, sekarang aku menangis karena gembira.”

(sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/02/01/n0aymx-sayangi-ibu-1)

Hikmah - Bahaya Gosip

Setiap orang pasti berusaha untuk menjaga dan mengangkat harkat dan martabatnya. Ia tidak rela untuk disingkap aib-aibnya ataupun dibeberkan kejelekannya. Karena hal ini dapat menjatuhkan dan merusak harkatd dan martabatnya di hadapan orang lain.

"Setiap Muslim terhadap Muslim lainnya diharamkan darahnya, kehormatannya, dan juga hartanya." (HR Muslim).

Hadis ini menjelaskan kepada kita tentang eratnya hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama Muslim. Bahwa setiap Muslim diharamkan menumpahkan darah (membunuh) dan merampas harta saudaranya seiman.

Demikian pula setiap Muslim diharamkan melakukan perbuatan yang dapat menjatuhkan, meremehkan, ataupun merusak kehormatan saudaranya. Karena, tidak seorang pun yang sempurna dan ma'shum (terjaga dari kesalahan) kecuali para nabi dan rasul. Sedangkan kita, tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan.

Di bulan penuh rahmat ini, hal yang sangat disayangkan, media-media kita masih asyik pada tayangan-tayangan seperti ini. Tayangan gosip yang mereka perhalus dengan sebutan infotainment ini masih tersaji dengan tanpa tedeng aling-aling dan tanpa merasa berdosa. Bukanlah tayangan picisan ini hanya akan menjatuhkan dan merusak harkat dan martabatnya.

"Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah?" tanya Rasul kepada para sahabatnya. "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu," jawab mereka. Sabda Rasul, "Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang dia membencinya, jika yang engkau sebutkan tadi benar-benar ada pada saudaramu, sungguh engkau telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan (fitnah) atasnya." (HR Muslim).

Aisyah RA pernah berkata kepada Rasulullah tentang Shafiyyah bahwa dia adalah wanita yang pendek. "Sungguh engkau telah berkata dengan suatu kalimat yang kalau seandainya dicampur dengan air laut niscaya akan mengubah air laut itu," jawab Rasul tidak suka. (HR Abu Dawud).

Sekedar menggambarkan bentuk tubuh seseorang saja sudah mendapat teguran keras dari Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan menyebutkan sesuatu yang lebih keji dari itu?

Dari sahabat Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, "Ketika aku mi'raj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu aku bertanya, "Siapakah mereka itu wahai malaikat Jibril?" Malaikat Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya." (HR Abu Dawud).

Yang dimaksud dengan memakan daging-daging manusia dalam hadis ini adalah ghibah atau bergosip. "Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangka adalah dosa; janganlah mencari-cari keburukan orang, dan jangan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaramya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik terhadapnya..." (QS al-Hujarat [49]: 12).

(sumber: Republika edisi Jumat, 27 Juli 2012 Oleh Ustaz Arifin Ilham hal 01)














Hikmah - Motivasi Ibadah

Ada tiga orang sahabat yang sangat iri dengan ibadah yang dilakukan Rasulullah SAW. Maka, ketika ketiganya mengetahui bahwa Rasulullah SAW itu rajin berpuasa, sering shalat malam, dan sedikit tidur, mereka pun ingin mengikutinya.

Orang yang pertama ingin berpuasa terus-menerus. Orang yang kedua ingin shalat malam terus-menerus tanpa tidur di malam hari. Dan, orang yang ketiga berkeinginan tidak menikah sepanjang hidupnya. Mendengar hal itu, Rasul SAW menasihati ketiganya. Sebab, ketiga cara yang ditempuh itu sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam. Rasul mencontohkan dirinya yang rajin berpuasa, tapi juga berbuka. Rasul setiap malam mendirikan shalat malam, tapi juga butuh istirahat dan tidur. Selain itu, Rasul juga menikah dan punya anak-anak.

Berkaca dari kisah diatas bahwa sesungguhnya ibadah itu harus disadari dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Dalam Alquran surah al-Bayyinah ayat 5, Allah SWT berfirman, "Allah tidak memerintahkan kamu untuk beribadah melainkan semata-mata ikhlas karena Allah. "Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya semua aktivitas itu berdasarkan niat..." (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam ibadah, ulama mengelompokkan ada beberapa motivasi yang sering dilakukan umat. Motivasi ibadah itu ada yang ikhlas karena Allah dan ada pula karena motivasi lain. Berdasarkan tingkatannya, setidaknya ada tiga motivasi keikhlasan.

Pertama, didorong oleh kewajiban, tidak ada kata menolak atau mengingkarinya. Boleh jadi karena terpaksa dan takut akan siksaan Allah. Beribadah dengan motivasi ini disebut dengan fear motivation. Dari kategori kecerdasan spiritual, motivasi ini menunjukkan kecerdasaan spiritual yang paling bawah.

Kedua, didorong oleh pahala atau imbalan dari Allah. Ibarat mengharapkan upah dari suatu pekerjaan. Motivasi ini dilandasi karena taat dan mewajibkan diri melakukan ibadah. Meskipun terkadang merasa berat, tetapi karena terpanggil oleh ketaatan kepada Allah, ibadah tetap dikerjakan. Beribadah dengan motivasi ini di sebut dengan reward motivation.

Ketiga, didorong harapan agar selalu dekat dengan Allah. Kelompok ini merasakan bahwa ibadah adalah kenikmatan dan kebutuhan. Melakukan ibadah bukan sekedar ketaatan, tetapi rasa rindu dan mencintai ibadah itu. Beribadah dengan motivasi ini disebut dengan internal motivation, dan karena cinta kepada Allah (love motivation). Inilah kecerdasan spiritual yang terbaik.

Munculnya aneka ragam motivasi dalam beribadah ini karena kita sering menganggap bahwa kebutuhan terhadap ibadah merupakan konsumsi jiwa. Sedangkan kebutuhan urusan duniawi atau materi merupakan santapan fisik.

Kecenderungan yang mengarahkan orbit manusia kepada Allah dianggap lahir dari pengaruh rohani. Sedangkan kekuatan yang mengarahkan orbit manusian kepada dunia atau materi merupakan pengaruh jasmani. Sering forum-forum keagamaan dinamakan "bimbingan rohani" atau "santapan rohani".

Tata cara seperti ini disebut dengan sekuler karena memisahkan nilai-nilai duniawi dan ukhrawi. Mereka sibuk berzikir, menggelar sajadah di masjid, berdoa, dan shalat sunah. Namun, mengabaikan kebutuhan keluarga, mencari nafkah, dan menuntut ilmu.

(sumber: Republika edisi Sabtu, 02 Maret 2013 Oleh Yaswirman hal. 01)

Hikmah - Tidak Ingin Populer

Al-Hasan al-Bashri bertutur tentang Ibnul Mubarak. Suatu saat Ibnul Mubarak pernah datang ke tempat sumber air dimana banyak orang yang menggunakannya untuk minum.

Kala itu orang-orang tidak ada yang mengenal siapa Ibnul Mubarak. Orang-orang pun akhirnya saling berdesakan dan saling mendorong untuk mendapatkan air tersebut. Ketika selesai mendapatkan minuman, Ibnul Mubarak pun berkata pada al-Hasan al-Bashri. "Kehidupan memang seperti ini. Inilah yang terjadi jika kita tidak terkenal dan tidak dihormati."

Sebagaimana banyak orang saleh dahulu kala, kita lihat tokoh agung Ibnul Mubarak ini lebih senang kondisinya tidak tenar dan tidak menganggapnya masalah. Sedangkan sekarang ini, ribuan cara dan sensasi digunakan hanya karena ingin terkenal.

Tradisi tidak ingin populer demi menjaga keikhlasan amal,  memang begitu kuat di kalangan mereka. Mereka tak peduli dengan gemerlap mobilitas manusia yang berkelas sekalipun. Karena mereka lebih sibuk mengasah batinnya di hadapan Ilahi. Sebab, di sanalah di bisa merenguk kenyamanan dan ketentraman yang tak terperi.

Ibnu Atha'illah as-Sakandari, dalam kumpulan larik puitis tasawufnya yang terkenal, al-hikam, menulis: "Idwan wujuduka fi ardhil-khumul, fama nabata mimma lam yudfan la yatimmu natajuhu" (Tanamlah wujudmu dalam bumi ketidakterkenalan, karena sesuatu yang tumbuh dari apa yang tidak ditanam, maka hasilnya tidaklah sempurna).

Tentu mereka juga tidak antisosial, karena justru dengan berinteraksi bersama manusia lain itulah, pesan-pesan Ilahi bisa disampaikan kepada mereka. Tapi, mereka sama sekali tidak bangga dengan sanjungan manusia, karena bukan itu yang mereka tuju.

Dan jika sebaliknya yang terjadi, yakni senang dengan pujian mereka maka hal itu menjadi petaka baginya. "Al-isti'nasu bin-nas, min alamatil-iflas (merasa nyaman dan senang bersama [pujian] manusia, adalah sebagian dari tanda kebangkrutan)," ujar Dzun nun.

Bertumpu hanya kepada diri sendiri dan bukan kepada ketokohan adalah pelajaran lain yang tidak bisa diambil dari narasi di atas, yang mungkin nyaris punah dari kita. Lihatlah fenomena yang terjadi dilingkungan kita, ketika kita mengurus perkara tertentu, kita sering dihadapkan  pada tembok birokrasi yang begitu kokoh sambil tidak memperoleh kejelasan perihal urusannya.

Tapi, begitu datang tokoh anu atau anak tokoh anu maka serta-merta hal itu memutuskan jalur antrean yang panjang sekalipun, mengabaikan profesionalisme dan keahlian sehebat apa pun, sehingga publik pun sering mengandalkan tokoh tertentu untuk memperlancar urusannya. Karena memang sistemlah yang membentuk demikian.

Sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada kurun tabiin. Misalny, apa yang terjadi dengan tokoh besar di kalangan tabiin, yaitu Ibnu Muhairiz, dimana Basyir bin Saleh bertutur, Ibnu Muhairiz datang ke sebuah kedai dengan membawa sastu daniq (seperenam dirham).

Dia ingin membeli sebuah baju. Kemudian seseorang berkata kepada pemilik toko, "Ini adalah Ibnu Muhairiz marah dan ia pun segera keluar seraya berkata, "Saya membeli dengan harta saya, bukan dengan agama saya."

(sumber: Republika edisi Kamis, 28 Februari 2013 Oleh Makmun Nawawi hal 01)

Terompet Setan

Di zaman edan, manusia mengalami dehumanisasi secara besar-besaran sehingga banyak dari mereka mengidap penyakit skizofrenia. Hal ini lantas membuat lupa ingatan dan kehilangan kesadaran tentang fitrah kebenaran (logika), baik buruk (etika), dan keindahan (estetika).

Di zaman edan, manusia tak hanya bersekutu dan menjadi teman dekat setan (QS al-Nisa [4]:38), tetapi sebagia telah menjadi setan. Dalam arti selalu membisikkan (meniupkan) kejahatan kedalam hati manusia. (QS an-Nas [114]:4-5).

Terompet (nyanyian) setan itu disenandungkan dalam aneka rupa sehingga manusia berpaling dari jalan Allah. Di antaranya, rayuan agar manusia bersifat kikir serta melakukan kejahatan, fakhsya, (QS al-Baqarah [2]: 268), seperti berbuat zina, mabuk-mabukan, judi dan segala tindakan sesat lainnya.

Dalam Alquran disebutkan bahwa sebagian manusia memang senang dan gemar membeli terompet setan itu (lahwa al-hadits). (Lihat QS Luqman [31]: 6).

Dalam satu riwayat, Abdullah bin Masud ditanya makna perkataan tidak berguna (lahwa al-hadits) dalam ayat diatas. Ia menjawab, "Demi Allah, tiada tuhan selain Dia, perkataan tak berguna itu adalah nyanyian (al-Ghina). Abdullah mengulangnya hingga tiga kali sambil bersumpah. (Tafsir Ibnu Katsir [6]:330).

Imam Hasan Al-Bashri memahami lahwa al-hadits sebagai sesuatu memalingkan manusia dari Allah. Seperti candaan, lelucon, gosip murahan, serta lirik dan lagu yang membangkitkan birahi. (Tafsir al-Alusi [15]: 408).

Namun, ini tidak berarti bahwa Islam anti dengan seni (kesenian). Seni dalam pengertian yang sebenarnya sebagai rasa (akan) keindahan, sensibilitas estetis (syu'ur bi al-jamal), dan kemampuan mengekspresikannya (wa al-ta'bir 'anhu).

Bahkan, menurut ulama besar dunia, Syekh Yusuf Qaradhawi, tak ada agama yang memberikan apresiasi kepada seni melebihi agama Islam. Dalam al-Fann fi al-Islam, Qaradhawi menjelaskan bahwa seni musik, nyanyian, syair, lirik, dan lagu, tidak tergolong terompet setan manakala memenuhi lima syariat.

Pertama, mengandung pesan yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran dan moral Islam. Kedua, dibawakan dengan cara yang bagus, tidak erotis, sensual, dan membangkitkan nafsu birahi.

Ketiga, tak ikut serta di dalamnya barang yang haram, seperti narkoba, miras (al-khamr), dan perjudian (masyir). Keempat, musik dan nyanyian tidak ekstrem atau berlebihan (ghuluw). Kelima, penonton musik atau konser wajib memiliki pertahanan diri, semacam early warning system jika ada hal-hal buruk yang tidak diinginkan.

Apabila tidak memenuhi lima syarat diatas, musik dan nyanyian itu tergolong terompet setan (mizmar al-syaithan). Inilah maksud sabda Nabi, "Lonceng (dentuman musik) tergolong terompet setan." (HR Ahmad dari Abu Hurairah).

Di zaman edan, kehidupan dunia bisa jungkir balik. Setan atau terompet setan bisa dianggap sebagai kebaikan dan dibela mati-matian atas nama seni dan kebebasan berekspresi. Benarkah? Wallahu a'lam.
(sumber: Republika edisi Rabu, 06 Juni 2012 Oleh Dr AIlyas Ismail hal 01)

Berhati Burung


Mencari rezeki meru pakan keniscayaan bagi makhluk yang bernyawa. Allah SWT telah menyediakan bermacam sarana agar rezeki itu mudah didapatkan.
Rezeki bahkan tidak hanya disediakan bagi orang yang beriman, tetapi juga untuk mereka yang tak beriman. Khusus bagi hamba yang beriman, Allah mengingatkan bahwa mencari bagian duniawi tidak boleh dilupakan, meskipun keukhrawian harus lebih diprioritaskan.
Dalam mencari rezeki, seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk serius dalam bekerja, tetapi juga diajarkan untuk memiliki energi ketawakalan dalam semua aktivitasnya.

Tawakal sering kali dipahami sebagai kepasrahan total kepada Allah, yang seolah menafikan usaha. Padahal, ketawakalan sejatinya merupakan sifat hati sebagai bagian keyakinan seorang mukmin bahwa rezekinya sudah ada yang mengatur.

Sikap tawakal akan membuat seseorang tidak ngoyo dan mabuk harta dalam mencari rezeki. Ketawakalan juga yang membuat seseorang menyadari bahwa bila rezekinya susah didapat, berarti Allah sedang menyiapkan takdir lain yang lebih baik untuknya.

Namun, bila rezeki itu dimudahkan, kemudahan itu diyakininya atas anugerah Allah, sehingga dia bersyukur atas karunia itu, bukan malah kufur.
Sebab, salah satu ciri tawakal adalah kesiapan jiwa dalam menerima seberapa pun rezeki yang didapat, apakah itu sedikit ataupun banyak.

Nabi Muhammad SAW meng ajarkan agar seorang muk min memiliki sikap keta wakalan seperti yang dipunyai seekor burung.

“Andai kata kalian be narbenar bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mem beri kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada bu rung, yaitu keluar dengan perut kosong di pagi hari dan kembali dengan perut kenyang di sore hari.” (HR Tirmidzi).

Nabi juga menjadikan “ber hati burung” sebagai salah satu syarat untuk bisa masuk surga.

“Akan masuk surga orang

orang yang berhati seperti burung.“ (HR Muslim).
Pemilihan burung sebagai tamsil pada kedua hadis tersebut, tentu bukan tanpa alasan.
Ternyata, berdasarkan penelitian para ahli, untuk mendapatkan rezekinya hewan ini diketahui harus melakukan migrasi hingga ribuan mil.

Namun, semua itu dilakukan dengan efektif dan efisien.
Hewan ini mampu mengalkulasi berapa energi yang diperlukan, bagaimana melakukan penerbangan yang aman, berapa jarak tempuh dan jumlah bahan bakar yang harus disediakan, juga bagaimana kondisi cuaca di udara.

Ia yakin hari itu pasti ada rezeki untuknya, meskipun harus dicari hingga ke tempat yang sangat jauh. Setelah mendapatkannya, ia pun tidak lupa untuk kembali ke sarangnya.

“Saat kamu bertekad (me lakukan sesuatu) maka berta wakallah pada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 159). “Orang yang bertawakal kepada Allah akan dicukupkan rezekinya.” (QS alThalaq [65]: 3).

Selaras dengan perintah Allah itu, Nabi diketahui mempraktikkan ketawakalan dalam kehidupan sehari-harinya. Nabi SAW bekerja, lantaran bekerja merupakan sunahnya.

Menurut al-Qusyairi (ulama abad ke-10 Hijriah), bila ingin mencontoh keseharian Nabi, seseorang tidak boleh melupakan sunahnya. ■
(source: Republika edisi Selasa, 15 Mei 2012 Oleh Moch Syarif Hidayatullah)

Inilah Alasan Rosululloh Melarang Ummat-Nya Minum Sambil Berdiri

Dalam hadist disebutkan “janganlah kamu minum sambil berdiri”. Dari segi kesehatan. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfinger. Sfinger adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi09aTIXwUcXuIruUrCWTMKft2m8di2RnreZca09HLqzQ7W95oY4qvjgkOue8PyxTw-vxKnmt8JMmsZ6FR-v5x-zQ0NqE4oHZqpQzT7PfdQ0Gdc2_Ef1XXLHa9oCHJoc_jPiwDuZUwGmqrO/s1600/minum+berdiri.jpg
Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Jika kita minum sambil berdiri. Air yang kita minum otomatis masuk tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika menuju kandung kemih itu terjadi pengendapan di saluran speanjang perjalanan (ureter). Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter inilah awal mula munculnya bencana.

Betul, penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang sungguh berbahaya. diduga diakibatkan karena Susah kencing, jelas hal ini berhubungan dengan saluran yang sedikit demi sedikit tersumbat tadi.

Dari Anas r.a. dari Nabi saw.: "Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri". Qatadah berkata, "Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa hal itu lebih buruk."

Pada saat duduk, apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lambat. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Adapun rasulullah saw pernah sekali minum sambil berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat azas darurat!

Manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat terpenting pada saat makan dan minum.

Ketenangan ini hanya bisa dihasilkan pada saat duduk, di mana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (vagal inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa berbenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokkan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

Diriwayatkan ketika Rasulullah s.a.w. dirumah Aisyah r.a. sedang makan daging yang dikeringkan diatas talam sambil duduk bertekuk lutut, tiba-tiba masuk seorang perempuan yang keji mulut melihat Rasulullah s.a.w. duduk sedemikian itu lalu berkata: "Lihatlah orang itu duduk seperti budak." Maka dijawab oleh Rasulullah s.a.w.: "Saya seorang hamba, maka duduk seperti duduk budak dan makan seperti makan budak." Lalu Rasulullah s.a.w. mempersilakan wanita itu untuk makan. Adapun duduk bertelekan (bersandar kepada sesuatu) telah dilarang oleh Rasulullah sebagaimana sabdanya, "Sesungguhnya Aku tidak makan secara bertelekan" (HR Bukhar).
source:http://dunia-inform.blogspot.com/2012/02/inilah-alasan-rosulullah-melarang.html?showComment=1336948489454#c775838105880930501

Pintu Rezeki

Allah SWT telah menyiap kan segala kebutuhan manusia; bahkan semua kebutuhan makhluk-Nya. Tidak ada satu pun makhluk kecuali telah Allah siapkan dan Allah sediakan apa yang menjadi keperluan dan kebutuhan hidupnya. Yang diperlukan adalah upaya dan usaha untuk menjemput rezeki tersebut dengan cara yang Dia gariskan. Dalam hal ini Allah telah menggariskan sejumlah pintu bagi manusia untuk memperoleh rezeki yang halal dan berkah.
Seorang Muslim tidak boleh berdiam diri. Tidak boleh dengan alasan ingin fokus beribadah ia malas bekerja dan mencari nafkah untuk keluarganya.
Allah menjamin rezeki makhluk; apalagi rezeki manusia. Hanya, Allah juga telah mewajibkan manusia untuk bekerja dan berupaya memburunya.
Meminta-minta dan mengemis kepada orang, sementara diri masih kuat dan mampu bekerja adalah aib yang sangat dicela dalam agama. Sebaliknya, siapa yang mau bekerja dan mempergunakan potensi yang Allah berikan padanya, ia akan mendapat apresiasi di sisi-Nya.
Siapa yang mencari nafkah halal guna menjaga diri dari meminta-minta, guna memenuhi kebutuhan keluarga, serta guna berbagi dengan tetangga, maka ia datang pada hari kiamat dengan wajah laksana bulan purnama.“ (HR Thabrani).
Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan kepada siapa pun yang ingin menunjukkan tawakalnya kepada Allah dengan melihat pada burung yang terbang berusaha untuk mendapatkan rezeki-Nya. “Andaikan kalian bertawakal kepada Allah secara benar, tentu Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung.
Burung pergi (terbang) di waktu pagi dalam kondisi perut kosong dan kembali dengan perut yang kenyang.“ (HR Tirmidzi).
Beriman dan bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. “Andaikan penduduk negeri beriman dan bertakwa, tentu Kami bukakan untuk mereka pintu-pintu keber kahan dari langit dan bumi.“ (QS al-A'raf: 96). Allah juga befirman dalam QS ath-Thalaq: 3.
Selanjutnya beristighfar.
Cara yang mudah, namun membutuhkan keyakinan dan keimanan yang kuat adalah beristighfar dan meminta ampunan-Nya. “Maka, aku katakan kepada mereka, `Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirim hujan kepadamu dengan lebat. Dia akan membanyakkan harta dan anak-anakmu. Serta Dia akan menghadirkan untukmu kebun-kebun dan sungaisungai.“ (QS Nuh: 10-12).
Kemudian, memperbanyak sedekah. Bersedekah tidak akan mengurangi harta, seba liknya ia akan bertambah.
Karena, yang demikian itu akan menjaga dan memancing turunnya rezeki Allah. “Tidak berkurang harta karena sedekah.“
(HR Tirmidzi).
Berikutnya adalah bersilaturahim. “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan (diberkahi) usianya, hendaknya menyambung tali silaturahim.“ (HR Muslim).
Dan yang terakhir adalah memperbanyak doa kepada Allah. Doa adalah senjata orang beriman. Manusia adalah makhluk yang terbatas dan Allah yang memiliki kekuasaan Mahaluas. Dengan berdoa, itu menunjukkan kelemahan kita untuk meminta pertolongan kepada Allah.
(source: Republika edisi Selasa 08 Mei 2012 Hal. 01 Oleh Fauzi Bahreisy)

IHSAN


Kehidupan dunia hakikat nya adalah ujian bagi setiap diri untuk mengetahui secara pasti siapa di antara kita yang terbaik amalan hidupnya (QS al-Mulk: 2). Siapa yang tidak ingin mendapat predikat terbaik di hadapan Allah SWT, tentu semua orang beriman sangat mendambakannya. Tetapi, perlu diingat bahwa berbuat yang terbaik menurut Allah SWT hanya bisa dilakukan oleh setiap Muslim yang mampu melakukan amalan-amalan ihsan. Oleh karena itu, mari hiasi diri kita dengan banyak melakukan amalan-amalan terbaik itu (ihsan).
Dalam Islam, gradasi ihsan berada di atas Islam dan iman.
Oleh karena itu, seorang Muslim yang mampu berbuat ihsan adalah Muslim yang sangat mulia di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh Malaikat Jibril terkait arti ihsan.
Rasulullah SAW menjawab, “Ihsan itu adalah kalian menyembah kepada Allah seakanakan kalian melihat-Nya. Kalaupun kalian tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Melihat (apa yang kalian kerjakan).“
Artinya, setiap Muslim diperintahkan berupaya melakukan amalan-amalan terbaik yang dikehendaki Allah SWT dalam situasi dan kondisi apa pun. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan. Beliau menyeru umat manusia untuk bertauhid kepada Allah SWT.
Tatkala Rasulullah SAW dihina, dicaci maki, dan dimusuhi oleh kaum kafir Quraisy, beliau sedikit pun tidak memiliki rasa dendam kepada mereka.
Bahkan, sekiranya ada kesempatan berbuat baik kepada mereka yang telah menghina dan membecinya itu, Rasulullah SAW akan selalu berusaha menjadi yang pertama melakukannya.
Seperti sebuah riwayat yang menuturkan bahwa dahulu ada seorang kafir Quraisy yang selalu meludahi Rasulullah SAW tatkala beliau lewat di depan rumahnya menuju Ka'bah. Peristiwa itu berlangsung setiap saat ketika Rasulullah SAW melintasi rumah orang kafir itu.
Suatu ketika Rasulullah SAW melintas seperti biasanya, tetapi saat itu tidak ada ludah yang mendarat di wajah beliau.
Sekembali dari ibadah, Rasulullah SAW mencari tahu di mana gerangan orang yang suka meludahinya itu berada.
Ketika mendengar orang itu sakit, Rasulullah SAW bergegas menjenguk orang yang sangat membencinya itu. Sang kafir itu pun terenyuh, bingung, sekaligus bahagia tatkala melihat Rasulullah SAW datang menjenguknya. Di luar dugaan, orang yang awalnya sangat membenci Rasulullah seketika menjadi sangat cinta kepadanya.
Ibn Abi Hatim dalam Tafsir Fath Al-Qadir, Imam Al-Syau kani menuturkan bahwa suatu ketika Nabi Isa pernah ditanya tentang pengertian ihsan. Nabi Isa menjawab, “Bukanlah perbuatan itu disebut ihsan jika kalian membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepadamu, tapi ihsan itu adalah ketika kalian mampu berbuat baik justru kepada orang yang berbuat jahat kepadamu.“
Oleh karena itu, hendaklah setiap diri bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk mampu mengerjakan amalanamalan baik (ihsan) atau melakukan perkara-perkara yang terbaik (ahsanu amala). Niscaya Allah akan memberikan jalanjalan kemudahan dan Allah akan selalu menyertai kehidupan kita (QS 29: 69).

(source: Republika edisi 07 Mei 2012 Hal .01 Oleh Imam Nawawi)

Manfaat Shalat Subuh


Shalat memiliki keduduk an yang sangat penting bagi setiap Muslim.
Shalat merupakan salah satu pilar dalam Islam (HR Bukhari), ia ibarat kepala dalam tubuh (HR Thabrani). Karena itu, Rasulullah SAW menjadikan shalat sebagai salah satu wasiat terakhirnya (HR Tirmidzi).
Semua ibadah shalat memiliki keistimewaan, tak terkecuali shalat Subuh. Dalam Alquran, Allah SWT menegaskan, Dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (QS al-Isra' [17]: 78).
Dari ayat tersebut di atas, jelas bahwa shalat Subuh benar-benar memiliki daya tarik dan sesuatu yang luar biasa.
Bahkan, Rasulullah SAW mengkhususkan shalat Subuh ini dengan berbagai keistimewaan yang dapat dirasakan manfaatnya bagi mereka yang mengerjakannya.
Pertama, mendapatkan jaminan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka, jangan sampai Allah menarik kembali jaminan-Nya kepada kalian dengan sebab apa pun. Karena barang siapa yang Allah cabut jaminan-Nya darinya dengan sebab apa pun, pasti akan tercabut. Kemudian, Allah akan telungkupkan wajahnya ke dalam neraka Jahanam. (HR Muslim).
Kedua, mendapatkan rahmat dan rida-Nya. Waktu Subuh adalah waktu yang paling baik untuk menjemput rahmat dan rida Allah SWT. Karena itu, manfaatkan waktu tersebut dengan memperbanyak zikir dan bermunajat kepada-Nya.
(QS al-Kahfi [18]: 28). Ketiga, mendapatkan pahala yang besar. Pergilah kalian untuk melaksanakan shalat Subuh karena di dalam shalat tersebut terdapat pahala yang besar. (HR ad-Darimi).
Keempat, dosa-dosanya akan diampuni Allah SWT. Barang siapa yang tetap duduk di tempat shalatnya seusai shalat Subuh hingga dia shalat Dhuha dua rakaat dan tidak mengu capkan sesuatu kecuali yang baik (zikir), maka diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan. (HR Baihaqi).
Kelima, dilapangkan rezekinya. Pernah suatu ketika Nabi SAW shalat Subuh, setelah selesai beliau kembali ke rumah dan mendapati putrinya, Fathimah, masih tidur.
Maka, beliau pun membalikkan tubuhnya, kemudian mengatakan kepadanya, Wahai Fathimah, bangun dan saksikanlah rezeki Rabbmu karena Allah SWT membagi-bagikan rezeki para hamba antara shalat Subuh dan terbitnya matahari. (HR al-Mundziri).
Keenam, sebagai tolok ukur keimanan. Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya' dan Subuh. Padahal, seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya meskipun harus merangkak. (HR Ahmad).
Tentu, masih banyak lagi manfaat shalat Subuh. Karena itu, sebagai Muslim kita berkewajiban melaksanakan shalat lima waktu dan senantiasa memperbanyak ibadah sunah lainnya.
Jika saja orang-orang mengetahui apa yang terdapat dalam shalat Subuh dan Ashar, niscaya mereka akan pergi melaksanakannya meski dengan merangkak. (HR Bukhari). Subhanallah.
(Source : Republika edisi : Sabtu 21 April 2012 Oleh Imam Nur Suharno)

Basmalah dalam Al-Fatihah Saat Shalat


Assalamualaikum wr wb
Ustaz, dalam shalat, pada rakaat pertama saya membaca doa iftitah, ta’awudz, dan basmalah, kemudian saya membaca al-Fatihah. Pada rakaat kedua, saya tidak membaca basmalah, tapi langsung membaca alhamdulillahi rabbi ‘alamin. Apakah cara bacaan al-Fatihah dalam shalat benar, Ustaz?
Hamba Allah
Waalaikumssalam wr wb
Membaca basmalah ketika membaca al-Fatihah dalam shalat merupakan masalah ijtihadiyah yang telah menjadi perbedaan pendapat para ulama sejak zaman awal Islam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya riwayat hadis yang menceritakan tentang cara Nabi Muhammad SAW  membaca al-Fatihah pada saat menunaikan shalat.
Perbedaan itu juga bermula pada beragamnya pandangan ulama mengenai apakah basmalah itu bagian dari al-Fatihah atau tidak. Berikut ini pendapat para ulama mazhab mengenai basmalah ketika membaca al-Fatihah dalam shalat. Mazhab Maliki berpendapat, basmalah bukan bagian dari al-Fatihah juga bukan dari bagian dari Alquran dan penulisannya dalam Al-quran hanyalah untuk tabaruk (mengharapkan berkah).
Maka, kita tidak boleh membaca basmalah sewaktu membaca al-Fatihah dalam shalat. Mereka berlandaskan hadis riwayat Anas bin Malik. Ia berkata, “Aku shalat dibelakang Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Usman yang mengawali shalat dengan alhamdulillahirabbil'alamin dan mereka tidak membaca bismillahirrahmanirahim di awal maupun di akhirnya.” (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim).
Mazhab Hanafi berpendapat, basmalah bukan bagian dari al-Fatihah, melainkan ayat Alquran yang digunakan sebagai pemisah di antara dua surat.Dan, disunahkan untuk baca basmalah dengan sirr (suara lirih) ketika membaca al-Fatihah untuk tabaruk. Dalam Mazhab Hambali ada dua riwayat, yang pertama berpendapat al-Basmalah bagian dari al-Fatihah, tapi hanya dibaca secara sirr dalam shalat.
Riwayat kedua menyatakan, basmalah bukan bagian dari al-Fatihah sehingga tidak harus dibaca ketika shalat. Sedangkan, Mazhab Syafi'i berpendapat, basmalah adalah bagian dari al-Fatihah dan juga bagian dari surah-surah dalam Alquran, kecuali surah al-Taubah. Seseorang wajib membaca basmalah dengan jahr (suara keras) saat membaca al-Fatihah dalam shalat jahriyah karena ayat dari al-Fatihah.
Jadi, dapat kita ketahui, basmalah dalam membaca al-Fatihah adalah khilafiyah yang sudah dibahas ulama sejak dulu dan mereka belum sampai kepada kata sepakat yang dapat menghapuskan perbedaan pendapat tersebut. Bagi mereka yang mengikuti pendapat bahwa wajib membaca basmalah ketika membaca al-Fatihah dan dia tidak membacanya serta tidak ingat kecuali setelah selesai maka dia harus mengulang shalatnya karena ia telah meninggalkan bagian dari rukun shalat menurut keyakinannya, yaitu bacaan al-Fatihah.
Bagi yang mengikuti pendapat bahwa basmalah bukan bagian dari al-Fatihah dan dia tidak membacanya maka shalatnya sah dan tidak perlu diganti dengan sujud sahwi. Sekarang, Anda yang menetapkan hendak mengembil pendapat mana yang paling Anda yakini. Wallahu a'lam bish shawab.

Filosofi Insya Allah


Ungkapan “Insya Allah“ sudah sangat lazim di kalangan kaum Muslim.
Ungkapan yang secara harfiah bermakna “Jika Allah Menghendaki“ ini sesungguhnya mengandung makna teologis yang amat dalam. Dengan “Insya Allah,“ pelakunya hendak mengembalikan segala sesuatu kepada kehendak dan kuasa Allah.
Seusai Perang Khaibar, Nabi dan kaum Muslim yang tampak lelah, mencari tempat istirahat di jalan. Nabi SAW mengingatkan dan bertanya siapa yang bisa membangunkan untuk shalat Shubuh. Sahabat Bilal bin Rabah menyatakan kesiapan dan kesanggupannya. Mereka pun tertidur lelap hingga terbit matahari.
Nabi adalah orang pertama yang mula-mula terbangun.
Beliau lalu menegur Bilal karena tidak melakukan janjinya. “Maaf ya Rasulullah, aku belum pernah tidur sepulas malam ini,“ kata Bilal. “Kalau saja kamu mengatakan `Insya Allah', kamu akan terjaga,“ kata Nabi. Kemudian, beliau menyuruh para sahabat mengambil air wudhu, lalu mereka shalat Shubuh. (Hayat al-Shahabah, Biografi Bilal).
Peringatan Nabi SAW kepada sahabat Bilal ini mengandung pelajaran penting. Pertama, manusia tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas menyangkut hal gaib. Untuk soal yang satu ini, ia tak boleh lupa kehendak dan kuasa Allah.
“Mereka berkata, `Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?' Katakanlah, `Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.' Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu.
Mereka berkata, `Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.' Katakanlah, `Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.' Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.“ (QS Ali Imran [3]: 154).
Kedua, untuk mencapai sukses, manusia bisa menyusun strategi, metodologi, dan menyiapkan instrumen pendukung sesuai hukum sebabakibat. Namun, semua persiapan lahiriah itu belumlah cukup. Ia harus pula mengembalikan rencana sukses itu kepada Tuhan. Sebab, “Manusia hanya berencana, Tuhan juga yang menentukan.“
Ketiga, Nabi sendiri pernah diingatkan oleh Allah agar jangan berkata pasti. Sewaktu ditanya soal Ashabul Kahfi, Nabi SAW memastikan jawaban be sok pagi. Gara-gara itu, wahyu justru terhenti, tidak turun 15 hari. Lalu, turun ayat ini, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan sesuatu, `Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali [dengan menyebut] Insya Allah'.“ (QS al-Kahfi [18]: 23-24).
Disadari, ungkapan “Insya Allah“ yang dilakukan oleh sebagian orang sekadar basabasi. Apalagi, hanya untuk menunjukkan ketidakseriusan dalam komitmen. Ungkapan seperti itu tak diragukan lagi menyimpang dan keluar dari petunjuk Islam. Perlu diketahui, kata “Insya Allah“ bukanlah eufemisme dan bukan pula labirin untuk menutup kepalsuan! Wallahu a`lam.
(source: Republika edisi Jum'at, 27 April 2012 Oleh Dr A Ilyas Ismail )

Ampunan dan Afiat


Diriwayatkan dari Abbas bin Abdul Muthalib RA, ia berkata, “Aku memohon kepada Rasulullah SAW. “Ajarilah kepadaku sesuatu yang digunakan untuk berdoa kepada Allah.“ Maka, beliau menjawab, “Wahai Abbas, paman Rasulullah SAW, mintalah kepada Allah afiah (keafiatan) di dunia dan akhirat.“ (HR Tirmidzi).
Dalam hadis lain yang diriwayatkan Ibnu Umar RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Tiadalah suatu yang diminta seorang hamba dari Allah yang lebih dicintai daripada meminta afiah.“ (HR Tirmidzi).
Dalam kitab Al-Hishnul Hashiin, al-Jazari berkata, doa Rasulullah SAW untuk me minta afiat merupakan hadis mutawatir, baik lafaz maupun maknanya, yang datang kepada kita melalui 50 jalan.
“Mohonlah ampunan dan afiat kepada Allah karena seseorang tidaklah diberi sesuatu yang lebih baik setelah keimanan dari afiat.“
Afiat adalah dukungan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya untuk bisa menunaikan perintah-Nya, menerima qadha dan qadar-Nya dengan rida dan berserah diri.
Dukungan Ilahi ini bisa berupa kesehatan jasmani dan rohani, rezeki halal, taufik, dan hidayah Allah. Orang yang meminta afiat berarti meminta dukungan atas apa yang niat dikerjakannya. Doa ini merupakan bekal untuk menolak bahaya dan menarik semua kebajikan.
Ibnu al-Jauzi mengatakan, orang yang berbahagia adalah orang yang merendah di hadapan Allah dan selalu memohon afiat. Karena, afiat tidak akan diberikan tanpa ujian.
Seorang yang berakal akan selalu meminta afiat untuk mengalahkan semua ujian dalam semua situasi dan kondisi. Dan, kita memerlukan kesabaran untuk menghadapi ujian sekecil apa pun. Seseorang tidak akan mencapai rida Allah tanpa ujian.
Sabar hakiki akan terwujud saat kita menerima semua takdir Ilahi. Dan, ketentuan Ilahi jarang yang datang se irama dengan keinginan nafsu kita. Orang cerdas adalah yang mampu menguasai nafsunya melalui kesabaran yang dijanjikan berpahala besar.
Al-Manawi mengatakan, maksud hadis “Mohonlah ampunan dan afiat“ adalah larangan untuk meminta bala dan ujian. Ampunan adalah penghapusan dosa, sedangkan afiat adalah keselamatan dari sakit dan bala.
Afiat itu mencakup di dunia dan akhirat. Karena kesalehan seorang hamba tidak akan sempurna kecuali dengan ampunan dan keimanan yang meyakinkan. Keimanan ini yang mampu menolak siksa akhirat. Sedangkan, afiat menolak penyakit dunia yang ada dalam hati ataupun di badan.
Oleh karena keafiatan di dunia merupakan nikmat Allah yang besar, orang yang mendapatkannya wajib menjaganya dan melindunginya dari hal-hal yang merusak. Dalam hal perintah doa afiat kepada Abbas yang dianggap sebagai orang tuanya, terdapat dorongan kepada kita agar membiasakan diri untuk memohon afiat kepada Allah.
Al-Mubarokfuri berkata, “Perintah Rasul SAW kepada Abbas untuk memohon keafiatan merupakan dalil tegas bahwa memohon keafiatan adalah doa yang tiada tandingannya bila dibandingkan doadoa lain.
(source: Republika edisi: Senin, 23 April 2012 Oleh Prof Dr Kh Achmad Satori)

Meredam Berita Buruk

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: M Fuad Nasar MSc

Allah SWT telah memberikan rambu-rambu yang tegas menyangkut dasar-dasar moral dan etika dalam membangun masyarakat yang beradab dan berbudaya. Hal ini ditegaskan dalam QS an-Nur [24]: 19, yang memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak menyebarkan berita-berita buruk. Melalui ayat tersebut, Allah memerintahkan umat Islam untuk tidak mudah terpengaruh dengan informasi yang tidak sehat, prasangka, ghibah, dan segala bentuk kekejian lainnya.

Sejalan dengan itu, dalam ayat 12 surah al-Hujurat [49] Allah menetapkan larangan  bagi orang-orang yang beriman untuk berprasangka negatif terhadap orang lain. Karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Selain itu, orang yang beriman juga dilarang mencari-cari keburukan orang lain dan menggunjingkannya. Alquran menganalogikan orang yang suka bergunjing itu seperti seseorang yang memakan daging saudaranya yang telah meninggal.

Begitulah cara Islam menjaga kehormatan sesama manusia dengan larangan memberi malu orang lain dan menyiarkan aib seseorang. Meskipun mungkin dari sudut pandang ekonomi berita-berita gosip mendatangkan keuntungan bagi media, tetapi dari segi moral dan psikologi masyarakat jelas hal itu merugikan.

Sudah menjadi sunatullah dalam masyarakat bahwa suatu kejahatan dan keburukan yang diekspose akan tumbuh makin subur. Di sinilah kita meyakini hikmah larangan Allah untuk tidak menyiarkan aib dan keburukan sesama manusia.

Berita pornografi, sadisme, perkosaan, dan berbagai tindak kejahatan lainnya yang tumbuh di masyarakat adalah untuk ditindak dan dibasmi, bukan sebaliknya menjadi tuntunan bagi masyarakat untuk turut meniru dan melakukannya. Berita itu harusnya menjadi filter bagi setiap pribadi Muslim untuk mengambil hikmah, agar senantiasa berbuat yang terbaik.

Berita-berita buruk seperti perselingkuhan, kejahatan seksual, pembunuhan, dan perampokan, jelas meninggalkan bekas mendalam pada masyarakat. Sadar atau tidak, tersiarnya berita buruk, apalagi disajikan berulang-ulang, dapat membangkitkan pikiran bawah sadar orang yang rusak akhlaknya untuk melakukan perbuatan yang sama.

Larangan dalam agama tidak hanya terhadap perbuatan menyiarkan berita buruk, tapi juga orang yang suka dirinya diekspose sebagai bahan berita buruk diperingatkan risikonya.

“Seluruh umatku dapat diampuni dosanya, kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Dan, termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan itu adalah seseorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari sampai paginya Allah menutupi (rahasianya), tapi kemudian ia sendiri yang membuka (rahasianya) dan berkata, “Tadi malam saya melakukan perbuatan ini dan itu.” Dia sengaja membukakan sesuatu yang oleh Allah telah ditutupi.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Tugas seorang Muslim bukanlah mencari kelemahan dan keburukan orang lain. Tetapi, mengajak orang lain agar berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran. Meredam berita buruk tentu bukan untuk melindungi keburukan dan pelakunya, melainkan untuk melindungi masyarakat dari pengaruh keburukan yang merusak.  Wallahu a’lam.

Rahasia Ikhlas


khlas artinya murni. Dalam I bahasa Arab air murni di sebut dengan almaa'ul khalish. Bila air itu dicampur teh, disebut al-syaai. Bila dicampur kopi disebut al-qahwah. Amal yang ikhlas artinya amal yang murni untuk Allah.
Bila sedikit ada acampuran kepentingan, amal itu menjadi tidak murni lagi. Dengan kata lain, keikhlasannya berkurang atau dianggap tidak ikhlas.
Ada beberapa kaidah penting untuk mengukur ikhlas tidaknya sebuah amal: Pertama, bahwa amal dikatakan ikhlas bila memenuhi dua syarat: shihhatun niyyah (niatnya benar karena Allah) dan shihhatul amal (amalnya benar sesuai dengan tuntunan). Bila hilang salah satunya, amal menjadi tidak ikhlas.
Contoh, seorang shalat Subuh dengan niat ikhlas, tetapi dia dengan sengaja menambah rakaatnya menjadi empat rakaat. Maka, shalat tersebut ditolak karena tidak sesuai dengan tuntunan. Karenanya, dalam beramal tidak cukup sekadar niat, melainkan juga harus benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Kedua, niat baik tidak bisa mengubah perbuatan maksiat menajdi baik. Contoh seorang mencuri dengan niat baik untuk membiayai anaknya sekolah. Maka, perbuatan tersebut tetap dosa.
Contoh lain lagi seorang berzina dengan niat ingin membahagiakan pacarnya. Ini tetap dosa besar. Seorang merampok dengan niat membantu fakir miskin, ini juga haram.
Seorang membuka aurat di depan umum dengan niat menghibur orang lain, ini dosa.
Ketiga, niat buruk bisa membuat amal baik menjadi buruk. Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa kelak di hari kiamat akan ada tiga orang yang dibangkitkan lalu masingmasing ditanya mengenai nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka.
Seorang yang diberi harta banyak, lalu Allah tanya kapadanya mengenai harta tersebut. Dia menjawab bahwa harta tersebut telah diinfakkan dalam kebaikan dengan niat ka menja rena Allah. Lalu Allah kamu wab, “Kamu bohong, ingin lakukan itu dengan niat Allah dibilang dermawan.“ Lalu agar me perintahkan malaikat nyeretnya ke neraka.
Lalu seorang yang diberi keahlian belajar dan mengajarkan Alquran. Allah bertanya kepadanya menganai nikmat Alquran. Dia menjawab bahwa telah mengajarkannya karena Allah. Allah menolak, “Kamu bohong, kamu lakukan itu dengan niat agar dibilang seorang qari atau alim.“ Lalu Allah perintahkan malaikat agar menyeretnya ke neraka.
Dan, seorang yang diberi kekuatan fisik dan keberanian untuk berperang. Ketika ditanya oleh Allah mengenai nik mat tersebut, dia menjawab, , “Aku telah berperang di jalant Mu ya Allah sehingga aku mati syahid.“
t Allah menjawab, “Kamu bohong, kamu lakukan itu agar i dibilang pemberani. Lalu Allah perintahkan malaikat agar a menyeretnya ke neraka.“
t Kita paham bahwa ikhlas a bukan sekadar ucapan penga hias bibir, melainkan amal yang lahir dari kejujuran iman.
Karenanya, para ulama meg ngatakan siapa yang mengata kan “aku ikhlas“, maka itu perlu diikhlaskan lagi.
Dan siapa yang pernah i ikhlas walaupun sejenak, maka itu sudah cukup sebagai bukti kejujuran iman. Wallahu a'lam.
(source: Republika edisi Sabtu, 14 Apri 2012 Oleh Dr Amir Faishol Fath)

Kemudahan Agama


Top of Form




Kemudahan merupakan salah satu prinsip pen ting dalam Islam. Ia merupakan anugerah Allah SWT, diberikan agar manusia tetap bersemangat dan tekun dalam menjalankan ajaran agama, terutama dalam situasi sulit.
(QS al-Baqarah [2]: 185).
Amr bin Ash pada suatu malam yang dingin dalam sebuah pertempuran yang panjang, mengalami “mimpi basah.“ Khawatir membawa akibat buruk kepadanya, ia tidak mandi jenabah, tetapi bertayamum, lalu shalat Subuh bersama teman lain.
Kasus ini dilaporkan kepada Nabi SAW. Lalu, Nabi SAW bertanya, “Hai Amr, Apakah kamu shalat Subuh sedangkan kamu dalam keadaan junub?“ “Ya, tuan,“ jawab Amr. “Aku khawatir atas diriku,“ tegas Amr lagi. Ia kemudian membaca ayat ini: “Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.“ (QS Al-Nisa' [4]: 29). Mendengar jawaban Amr, Rasulullah SAW tersenyum dan diam tak berkata lagi. (HR Bukhari).
Prinsip kemudahan (taysir) sangat jelas dalam Islam, seperti tampak dalam kisah Amr ini. Setiap kesulitan, pada dasarnya, menuntut kemudahan (al-Masyaqqah tajlib al-taysir).
Kalau diperhatikan secara seksama, setiap ibadah dalam Islam disediakan kemudahankemudahan. Sekadar contoh, bersuci dalam kondisi normal harus dilakukan dengan air.
Tapi, dalam kondisi sulit, bersuci dapat dilakukan dengan tayamum.
Shalat, seperti umum diketahui, harus dilakukan dengan berdiri. Akan tetapi, bagi yang tak mampu berdiri, ia boleh melakukannya dengan duduk, bahkan dengan berbaring saja.
Begitu juga disediakan kemudahan dalam ibadah puasa, haji, dan seterusnya. Dalam terminologi fikih, kemudahankemudahan itu dinamakan “Rukhshah,“ yaitu pengurangan beban sebagai wujud kasih sayang Allah SWT.
Meskipun mudah dan disediakan banyak kemudahan, namun kemudahan itu bukan sesuatu yang gratis (free of charge). Kemudahan-kemudahan itu menuntut persyaratan dan kondisi-kondisinya sendiri. Misalnya, adanya kesulitan (masyaqqah) seperti telah dikemukakan. Persyaratan lain ialah bahwa kemudahan (alternatif) yang disediakan bukanlah dosa atau perkara yang dilarang oleh Allah SWT.
Dalam hadis shahih disebutkan bahwa setiap kali Nabi dihadapkan pada dua pilihan, beliau selalu memilih yang paling mudah dari keduanya. Tapi, kalau pilihan kemudahan itu merupakan dosa maka beliau adalah orang yang mula-mula lari dan menjauhkan diri darinya. (HR. Bukhari dari Aisyah).
Berbagai kemudahan aga ma itu diberikan oleh Allah SWT untuk tujuan dan maksud yang mulia. Pertama, memastikan agar manusia dapat menjalankan agama tanpa susah payah dalam dimensi ruang dan waktu. Kedua, mendorong dan memotivasi manusia agar rajin dan semangat menjalankan agama, lantaran bisa dilakukan dengan mudah dan tanpa kesulitan.
Karena agama itu mudah maka tidak boleh ada opini yang menggambarkan bahwa agama itu seolah-olah menyusahkan. Inilah pandangan yang ditolak Allah. “Dan Dia sekalikali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.“ (QS. Al-Hajj [22]: 78). Wallahu a`lam!
(source: Republika, Jumat 13 April 2012  Oleh Dr A Ilyas Ismail)
Bottom of Form