Ungkapan “Insya Allah“ sudah sangat lazim di kalangan kaum Muslim.
Ungkapan yang secara harfiah bermakna “Jika Allah Menghendaki“ ini sesungguhnya mengandung makna teologis yang amat dalam. Dengan “Insya Allah,“ pelakunya hendak mengembalikan segala sesuatu kepada kehendak dan kuasa Allah.
Ungkapan yang secara harfiah bermakna “Jika Allah Menghendaki“ ini sesungguhnya mengandung makna teologis yang amat dalam. Dengan “Insya Allah,“ pelakunya hendak mengembalikan segala sesuatu kepada kehendak dan kuasa Allah.
Seusai Perang Khaibar, Nabi dan kaum Muslim yang tampak lelah, mencari tempat istirahat di jalan. Nabi SAW mengingatkan dan bertanya siapa yang bisa membangunkan untuk shalat Shubuh. Sahabat Bilal bin Rabah menyatakan kesiapan dan kesanggupannya. Mereka pun tertidur lelap hingga terbit matahari.
Nabi adalah orang pertama yang mula-mula terbangun.
Nabi adalah orang pertama yang mula-mula terbangun.
Beliau lalu menegur Bilal karena tidak melakukan janjinya. “Maaf ya Rasulullah, aku belum pernah tidur sepulas malam ini,“ kata Bilal. “Kalau saja kamu mengatakan `Insya Allah', kamu akan terjaga,“ kata Nabi. Kemudian, beliau menyuruh para sahabat mengambil air wudhu, lalu mereka shalat Shubuh. (Hayat al-Shahabah, Biografi Bilal).
Peringatan Nabi SAW kepada sahabat Bilal ini mengandung pelajaran penting. Pertama, manusia tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas menyangkut hal gaib. Untuk soal yang satu ini, ia tak boleh lupa kehendak dan kuasa Allah.
“Mereka berkata, `Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?' Katakanlah, `Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.' Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu.
Mereka berkata, `Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.' Katakanlah, `Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.' Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.“ (QS Ali Imran [3]: 154).
Mereka berkata, `Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.' Katakanlah, `Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.' Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.“ (QS Ali Imran [3]: 154).
Kedua, untuk mencapai sukses, manusia bisa menyusun strategi, metodologi, dan menyiapkan instrumen pendukung sesuai hukum sebabakibat. Namun, semua persiapan lahiriah itu belumlah cukup. Ia harus pula mengembalikan rencana sukses itu kepada Tuhan. Sebab, “Manusia hanya berencana, Tuhan juga yang menentukan.“
Ketiga, Nabi sendiri pernah diingatkan oleh Allah agar jangan berkata pasti. Sewaktu ditanya soal Ashabul Kahfi, Nabi SAW memastikan jawaban be sok pagi. Gara-gara itu, wahyu justru terhenti, tidak turun 15 hari. Lalu, turun ayat ini, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan sesuatu, `Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali [dengan menyebut] Insya Allah'.“ (QS al-Kahfi [18]: 23-24).
Disadari, ungkapan “Insya Allah“ yang dilakukan oleh sebagian orang sekadar basabasi. Apalagi, hanya untuk menunjukkan ketidakseriusan dalam komitmen. Ungkapan seperti itu tak diragukan lagi menyimpang dan keluar dari petunjuk Islam. Perlu diketahui, kata “Insya Allah“ bukanlah eufemisme dan bukan pula labirin untuk menutup kepalsuan! Wallahu a`lam.(source: Republika edisi Jum'at, 27 April 2012 Oleh Dr A Ilyas Ismail )